Talcott Parsons

Tokoh kita ini lahir di Colorado Spring, Colorado, Amerika Serikat. Beliau diklaim sebagai seorang fungsionali. Dan karena konsisten dengan teori-teorinya tetang masyarakat, tokoh kita ini di juluki “Paus” dalam sosiologi Amerika.

Saat muda, tokoh kita ini mula-mula menaruh minat kepada biologi dan filosofi. Akan tetapi, perjalanannya ke eropa “memaksa” dirinya berkenalan dengan ilmu-ilmu sosial. Tepatnya tahun 1924, di London, ia tertarik kepada Bronislaw Malinowski yang terkenal dengan teori fungsionalis. Selanjutnya ia juga belajar kepada Alfred Marsal. Selama dua tahun di Heidelberg (Jerman) ia mempunyai karya-karya Max Weber, Emile Durkheim, Vilfredo Pareto, dan lain-lain.

Maka saat ia kembali ke negaranya, AS, di kepalanya penuh ilmu-ilmu sosiologi lengkap dengan berbagai teorinya. Sejak itu karier keilmuannya pun mulai semakin lebar. Terbukti tidak lama setelah pulang ke Negara asalnya, ia diserahi jabatan penting di Harvard University. Teori pentingnya dalam The Structure of social action menjadi perbincangan di kalangan sosiolog saat itu.

Dalam pandangan kaum fungsional, struktur sosial suatu masyarakat terdiri atas bagian-bagian, seperti rumah sakit, sekolah, universitas, pertanian, keluarga, dan seterusnya yang terbagi-bagi berdasarkan fungsinya. Sebagai seorang fungsional, tokoh kita ini melihat masyarakat dengan memahami berbagai sistemnya secara keseluruhan. Masyarakat dengan bahasa yang lain, ibarat sebuah organism makhluk hidup yang bisa sehat dan bisa juga sakit. Masyarakat akan sehat jika bagian-bagian dari diri masyarakat (kelompok, individu, fungsional) memiliki kebersamaan satu sama lain. Apabila ada bagian yang tidak menyatu secara kolektif, maka kesehatan suatu masyarakat akan terancam dan sakit.

Dalam karyanya The Social System (1951) juga disusul karya-karyanya yang lain, ia melanjutkan ia melanjutkan visinya yang “sistematik” dan “fungsional”. Agar sebuah masyarakat tetap stabil, katanya, maka beberapa fungsi di dalamnya harus dipenuhi.

Tentang fungsi-fungsi dari masyarakat ini, tokoh kita mengusulkan empat konsep yang disingkat dengan AGIL. “A” merupakan Adaptation, yang menuntut penyesuaian suatu masyarakat terhadap lingkungan. “G” merupakan Goal/tujuan (sasaran) yang merupakan orientasi dari masyarakat itu sendiri. “I” atau Integration yang mengacu pada integrasi para warganya terhadap kelompok. Dan Terakhir “L”, Latent Pattent, merupakan pemeliharaan norma-norma (pola-pola yang tersembunyi) dalam masyarakat itu sendiri.

Melalui teorinya itu, tokoh kita menjelaskan struktur sosial (masyarakat AS) dengan berbagai sistem dan institusi-institusinya, semisal keluarga, peradilan, polisi, pendidikan, agama, fungsi-fungsi logika internal, dan lain-lain berikut eksistensi-eksitensinya. Tokoh kita ini merupakan rujukan penting dalam analisis teori-teori fungsionalis.(d.o)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: